Showing posts with label traveling. Show all posts
Showing posts with label traveling. Show all posts

Friday, 24 January 2014

Berlibur Sejenak

Tidak terasa tahun 2013 akan berakhir. Siap atau tidak aku akan bertemu dengan tahun 2014. Tahun dimana aku akan menjadi seorang sarjanah. Menjadi seorang sarjanah tidaklah mudah. Aku perlu melewati beberapa tahap untuk mencapai predikat sarjana. Salah satu tahap itu bernama Seminar Usulan Proposal atau biasa anak kelas menyingkatnya SUP.

Aku memiliki kedekatan yang sangat intim dengan SUP. Kedekatanku dengan SUP sudah terbina mulai dari semester 6. Di kala teman-teman sekelas masih sibuk dengan Praktek Kerja Lapangan atau PKL Aku sudah menginput SUP duluan. Aku menginput SUP duluan dengan pertimbangan yang sangat mudah, karena aku tidak ingin melihat kekosongan di KRS yang harus terisi 24. 

Pada waktu semester 5 aku sudah mengambil PKL duluan dibandingkan teman-teman sekelas. Aku berpikir jika PKL saja aku bisa mengambil terlebih dahulu dibanding teman-teman yang lain, kenapa SUP aku tidak mencoba mengambilnya duluan.Toh tidak ada yang salah jika aku mencoba seperti PKL.

Waktu berjalan dengan cepat, motivasi yang lemah membuatku tak menyentuh SUP sama sekali, hingga masa pengisian nilai oleh dosen terjadi aku tidak menyentuh SUP. Alhasil nilai yang aku dapat adalah E atau bahasa halusnya belum lulus.  

Semester 7 pun datang aku menginput lagi SUP untuk ke dua kalinya. Ternyata di semester ini aku bertemu dengan mata kuliah Praktek Keterampilan Mengajar atau disingkat PKM. Di dalam mata kuliah ini mahasiswa harus mengajar di sebuah sekolah selama 3 bulan penuh. Jika PKL aku dan teman-teman hanya mengerjakan laporan keuangan yang mudah namun di PKM ini tugas kami sangatlah berat. Bukan hanya mengajar melainkan kami membuat suatu rancangan pengajaran, membuat soal, menguji soal yang telah dikerjakan siswa, hingga memberikan nilai ke seluruh siswa.

Setelah urusan PKM selesai, aku harus kembali menyentuh SUP. Namun prosedur yang melelahkan di PKM membuat aku kurang bergairah untuk menyentuh SUP, Alhasil aku mendiamkan SUP selama satu bulan. Dan kebetulan di satu bulan itu aku mendapatkan suatu acara yang lumayan feenya, lumayan bisa untuk biaya liburan.

Selepas melakukan pekerjaan, entah semangat dari mana aku ngebut mengerjakan SUP. Aku rajin bimbingan dengan dosen, pergi ke perpus fakultas, pergi ke perpus Universitas, pergi ke perpus daerah demi menyelesaikan SUP.  Setelah selesai mengerjakan SUP aku harus mendaftarkan diri untuk sidang SUP.

Di dalam syarat sidang SUP, mahasiswa wajib menyerahkan hasil SUP yang telah mereka buat. Penyerahan SUP merupakan tanda bahwa mahasiswa tersebut mendaftarkan diri untuk sidang, jika tidak menyerahkan mahasiswa tersebut tidak bisa mengikuti sidang SUP. Waktu pengumpulan SUP berselang satu minggu sebelum sidang, karena beberapa teknis aku mengumpulkan SUP 3 hari sebelum sidang akan berlangsung.

Sehari sebelum sidang, tepatnya tanggal 29 Desember 2013. Dosen melihat judul SUP yang aku kerjakan memiliki kesamaan dengan judul SUP temanku. Alhasil aku di panggil, aku pun menjelaskan perbedaan antara SUPku dengan SUP temanku. Namun sayang dosen tidak menghiraukan alasan yang aku jelaskan. Ia meminta untuk mengganti SUP yang telah aku buat, dan aku tidak bisa mengikuti sidang besok 30 Desember 2013.Mendengar pernyataan seperti itu, aku sedih, kecewa perjuangan yang cukup menguras uang, waktu, dan tenaga harus terhenti.

Aku berserah bukan berarti menyerah masih panjang perjuangan ini. Mungkin ini waktunya aku berlibur sejenak. Yah berlibur sejenak melepaskan penat dari semester 7. Aku mengucapkan "hei SUP ku sayang aku menunda mu, aku akan berlibur selama 2 minggu, setelah itu aku akan kembali kepada mu"

Mulai tanggal 31 Desember 2013 - 15 Januari 2014 aku berlibur berkeliling Indocina, ASEAN secara solo traveler !

Wednesday, 15 January 2014

Belajar dari shut down Bangkok, Thailand

Hari itu 12 Januari aku berkunjung ke negeri gajah putih, bukan untuk menyaksikan demo besar yang akan terjadi, melainkan aku memang sudah berada di kota ini dari tanggal 31 Desember. Aku sudah memesan tiket pesawat dari jauh hari untuk mengunjungi negeri ini, namun di luar dugaan kota ini mengamuk meminta perhatian dunia bahwa suara rakyat negeri ini ingin di dengar,

Mereka datang dari seluruh penjuru daerah. Berkumpul,bersatu, dan bersuara  di pusat kota Bangkok. Pusat segala aktivitas pemerintahan dan bisnis negeri gajah putih. Mereka tidak anarkis. Sejauh mata memandang apa yang aku saksikan di malam itu hanya suatu festival. Nama festival itu ratan
nakoasin, aku menonton pertunjukan yang menceritakan raja dan ratu Thailand. Aku menggambar bersama anak-anak kecil, menyantap makanan tradisional secara gratis, menyaksikan fire dancing,dan tak lupa aku berjalan mengelilingi stand yang ada di dalam festival itu hingga aku kembali ke hostel. Penuh suka cita di dalam festival ini.

Namun ternyata, pada waktu yang bersamaan di daerah grand palace terjadi penembakan. Entah bagaimana awal ceritanya, aku hanya mendapat info sekilas itu dari seorang teman Thailand. Ia memberitahuku bahwa ada korban tewas dalam kejadian tersebut. Mendengar hal tersebut, aku hanya heran aku tidak merasakan ancaman atau hal yang mengkhawatirkan, malah aku bahagia bersama dengan turis mancanegara ataupun rakyat Thailand itu sendiri.

Dan akhirnya pada tanggal 13 Januari, kejadian Bangkok shutdown pun berlangsung secara besar-besaran. Semua bis di Bangkok tidak beroperasi. Aku hanya memilih berdiam diri di kawasan khoasan road. Daerah dimana pusat turis mancanegara tinggal. Aku takjub dengan kota ini, aku tidak pernah melihat turis mancanegara sebanyak ini di Jakarta. Para turis mancanegara seolah tidak larut dalam situasi demo, mereka tetap beraktivitas. Berkumpul di café, di club, jalan-jalan di sekitaran khoasan. Semua berjalan normal tidak ada yang dikhawatirkan dalam benak mereka.

Sambil berkeliling di daerah khoasan road aku pun menyaksikan demontrasi yang besar itu di televisi jalanan, sungguh situasi yang luar biasa besar. Mereka, rakyat Thailand mengibar-ibarkan bendera Thailand, bernyanyi, bersorak akan perubahan di dalam tubuh pemerintahan mereka. Kota ini seolah jatuh di tangan rakyat. Namun apa yang aku lihat mereka tidak membakar ban, tidak rusuh, tidak bentrok dengan polisi semua berjalan dengan damai. Tidak heran walau situasi yang mengkhawatrikan yang diberitakan di media massa turis mancanegara tetap asik berwisata di ibukota negeri gajah putih ini.


Aku mendambakan Jakarta atau kota-kota di negeriku Indonesia, jika berdemo bisa seperti ini. Berkumpul, bersatu, dan bersuara. Namun tidak anarkis. Kita perlu dan berhak menyuarakan aksi kita. Karena pemerintahan tanpa rakyat itu bukanlah Negara.

Sunday, 24 November 2013

Tips Jika Koper Hilang di Bandara

Bandara bisa dibilang menjadi kawasan terpadat. Salah satu contoh bandara terpadat di Indonesia ialah Bandara Soekarno Hatta, di bandara ini tiap harinya ada sejuta lebih orang turun naik pesawat. begitu pula di kota-kota sibuk lainnya di mancanegara.


Tak jarang kejadian koper hilang atau terbawa penerbangan lain sering terjadi. Untuk menghindari hal yang tidak di inginkan, berikut tips agar koper anda tak terbang melayang:

1. Nomor Jalur Bagasi
Di sejumlah bandara, ada banyak jalur penurunan bagasi. Pastikan Anda berada pada jalur yang tepat. Lihat pengumuman nomor penerbangan di atas jalur bagasi.

2. Kartu Klaim
Banyak orang mengabaikan kartu klaim yang biasa menempel pada boarding pass atau tiket. Apalagi jika kartu ini terpisah dari boarding pass. Padahahal kartu ini harus Anda jaga karena selain sering ada pemeriksaan juga bermanfaat jika koper Anda tidak ditemukan.

3. Koper dalam Penerbangan Lain
Untuk kasus ini koper biasanya akan kembali. Hanya dibutuhkan kesabaran menunggu karena bisa memakan waktu sehari.

4. Identitas dan Tanda Khusus
Sebaiknya tempelkan keterangan identitas seperti nama, alamat, kota asal, dan nomor yang bisa dihubungi. Selain itu berikan tanda khusus di tas Anda agar mudah dikenali dan tidak tertukar.

5. Satu Pasang Pakaian
Siapapun tentu ogah jika kopernya hilang atau tertinggal tapi untuk berjaga-jaga Anda perlu membawa sepasang atau dua pasang pakaian di tas yang diletakan di kabin. Sehingga jika ada hal buruk terjadi Anda masih memiliki pakaian ganti. Peralatan mandi mini pun perlu disiapkan.

6. Pisahkan Barang Berharga
Idealnya koper di bagasi hanya berisi pakaian dan alat kecil lainnya. Pisahkan barang berharga seperti laptop, identitas, dan dokumen penting lainnya. Simpan di dalam tas yang diletakan di kabin.

Tuesday, 19 November 2013

Sandeq, Ikon Wisata Sulbar yang Mendunia

Aris, seorang pria kurus berusia lanjut, menatap rindu ke perahu layar yang berpacu. Mata teduh menyiratkan pengalaman membatu tentang laut dan sandeq. Namun di keteduhan itu, ia terus siaga, menatap tajam pada sandeq bernama Surya Persada. Takut-takut ada kerusakan yang timbul di perahu layar itu.

Ia terombang-ambing selama beberapa jam di dalam kapal body, sebutan untuk kapal bermesin tanpa layar. Di depan mata, pacuan sandeq tengah berlangsung. Sebuah tradisi kuat yang mengakar dari generasi ke generasi.

Aris seorang tukang perahu. Ia bertugas melakukan perbaikan jika terjadi kerusakan pada perahu layar khas suku Mandar atau dikenal dengan sebutan sandeq. Namun, di saat muda, ia kerap turun sebagai peserta lomba sandeq. Aris sendiri tak yakin berapa usianya sekarang. Ia hanya tahu usianya sudah lebih dari setengah abad.

"Ya, rindu juga ikut lomba sandeq," tuturnya sambil tertawa seusai lomba Etape 3 (rute segitiga Majene) Sandeq Race, di Majene, Provinsi Sulawesi Barat, Senin (3/9/2012).

Provinsi  Sulawesi Barat (Sulbar) yang baru berusia delapan tahun sebagai hasil pemekaran dari Sulawesi Selatan itu memang belum tenar. Majene, sebagai salah satu kabupaten di Sulbar, sempat tenar sesaat akibat peristiwa jatuhnya Adam Air pada tahun 2007. Saat itu, pesawat diperkirakan jatuh di seputaran perairan Majene yang disebut-sebut sebagai "Segitiga Bermuda"-nya Indonesia.
Majene dan tiga kabupaten lainnya di Sulbar memang berada di pesisir pantai. Sulbar sendiri memiliki lima kabupaten. Tak heran, jika Suku Mandar pun memiliki tradisi kuat dalam mengarungi laut.
Perahu layar tercepat

Bentuk sandeq begitu ramping, tetapi panjang. Lebarnya hanya tak sampai satu meter dan panjang sekitar 12 sampai 13 meter. Bentuknya meruncing, baik di depan maupun di belakang. Sandeqtradisional yang digunakan untuk balap hanya mengandalkan kekuatan angin untuk melaju.

Layar terbentang begitu tinggi dan lebar, seakan tak sebanding dengan badan perahu yang ramping. Tinggi tiang layar mencapai 16 meter. Sementara itu, lebar layar sekitar 12 meter. Dari tepi pantai, layar itu menari-nari ditiup angin. Di kala angin tak bersahabat, pengendara sandeq pun terpaksa mendayung.

Ada dua versi mengenai asal-usul nama sandeq. Satu hal yang pasti, sandeq berarti 'runcing'. Versi pertama menyebutkan bahwa runcing yang dimaksud adalah badan perahu yang kedua ujungnya meruncing. Sementara itu, versi kedua dituturkan oleh Ahmad Hasan, petugas di Museum Mandar. "Karena ujung layarnya runcing, makanya disebut sandeq," ungkapnya.

Museum Mandar sendiri cocok menjadi tempat untuk mendapatkan informasi mendalam mengenai perahu-perahu khas Mandar, termasuk sandeq. Sementara itu, untuk melihat pembuatan langsung perahu sandeq, kita bisa ke daerah Cilalang dan beberapa tempat lainnya di seputar Majene ataupun Polewali Mandar.

Perahu ini dibuat dari kayu yang berasal dari pohon tipulu, sejenis pohon meranti; juga dengan tambahan kayu ulin. Sandeq juga dilengkapi bambu dan paku pun terbuat dari kayu. Walau tradisional,sandeq mengalami beberapa inovasi. Penggunaan tripleks menjadi inovasi yang dilakukan.
Keunikan lainnya adalah warna perahu yang seragam, warna putih. Dari kejauhan, saat sandeq-sandeqberjejeran, warna putih tersebut begitu kontras dengan birunya lautan. Beberapa orang menyebutkan warna putih merupakan tradisi dari kepercayaan nenek moyang untuk menghalau roh jahat yang bisa datang mengganggu saat melaut.

Versi lain menyebutkan warna putih dimaksudkan agar mudah terlihat di malam hari saat nelayan pergi mencari ikan. Ya, sandeq sebenarnya perahu yang digunakan nelayan mengarungi lautan untuk menangkap ikan. Tak main-main, sandeq bisa berlayar hingga Kalimantan, bahkan lebih.
"Saya dulu berlayar sampai Lombok untuk mencari ikan. Perlu waktu tiga hari tiga malam," ungkap Aris.

Konon, sandeq merupakan perahu layar tradisional tercepat di dunia. Menurut Qadir Tahir, Kepala Dinas Pemuda Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Majene, sebuah penelitian yang dilakukan orang Perancis menunjukkan bahwa sandeq merupakan perahu tradisional yang tercepat di kelasnya di dunia.

Sandeq memang pernah dikirim ke Perancis pada Juli 2012 dalam ajang Les Tonnerres de Brest Festival. Aksad, salah satu peserta Sandeq Race 2012, dengan sandeq bernama Bress Perancis, salah satu saksi peristiwa bersejarah itu.

Bress Perancis yang diunggulkan dalam Sandeq Race 2012 ternyata memiliki "kakak". Begitu sebutan yang dijuluki Aksad. Perahu "kakak" yang ia maksud adalah sandeq lain yang dimilikinya. Bersama dua perahu lainnya, sandeq miliknya tampil di Perancis.

"Saya datang ke Perancis bersama tim untuk melayarkan sandeq. Sambutannya meriah," tuturnya.
Ia mengungkapkan, Darwin, juru kemudi yang menjalankan sandeq Bress Perancis ataupun sandeqyang dikirim ke Perancis, sampai didatangi banyak orang untuk mencari tahu. Sesaat, mereka bagai selebriti.

"Pak Darwin disebut 'kapten kapal' oleh orang-orang di sana," katanya sambil tersenyum bangga.
Sampai saat ini, ketiga perahu tersebut masih ada di Perancis. Saat itu, sandeq mewakili Indonesia dalam festival bahari yang bertempat di Bretagne, Perancis, tersebut pada 13-19 Juli 2012.
Kala itu, sandeq tampil bersama 2.500 perahu layar lainnya, berasal dari berbagai penjuru dunia. Ajang yang berlangsung setiap empat tahun itu ibarat panggung unjuk gigi bagi sandeq untuk tampil di mata dunia.

Seperti dikutip dari situs resmi Les Tonnerres de Brest Festival 2012, festival ini dikunjungi lebih dari satu juta orang dari berbagai negara. Indonesia menjadi satu dari lima negara yang khusus diundang festival, termasuk Meksiko, Rusia, Norwegia, dan Maroko.
Orang Mandar memang patut berbangga pada sandeq. Hal itu pun masih terlihat hingga kini. Para peserta Sandeq Race banyak yang tak sekadar mengejar uang sebagai hadiah perlombaan, tetapi lebih dari itu.

"Bukan uang yang saya kejar. Ini hobi dan kebanggaan," kata Aksad.
Saat Sandeq Race 2012 berlangsung, anak-anak kecil yang ikut bersorak menyemangati sandeqbegitu terpesona pada perahu tersebut. Mereka lahir dan besar di Majene. Beberapa anak saat ditemui mengungkapkan kekaguman mereka pada sandeq. Seakan impian mereka adalah bisa mengarungi lautan dengan sandeq.

"Ya, Kak, nanti kalau sudah besar mau ikut balap sandeq," ujar seorang anak.
Dengan riwayat pernah tampil di mata dunia, pantaslah jika sandeq menjadi ikon budaya dan ikon wisata Mandar. Terlebih lagi, Sulbar memiliki lomba tahunan Sandeq Race yang bisa menjadi ajang promosi pariwisata Sulbar... (bersambung)


Kenali negeri mu, Cintai negeri mu

Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai ...

lirik lagu ciptaan ibu sud di atas mengajak kita untuk mencintai, menghargai,dan menghormati tanah air Indonesia. Walau pergi jauh, Indonesia tetap di hati. Kita bisa mencintai dan menghargai tanah air kita, Indonesia. Jika kita mengenal dengan baik apa yang dimiliiki oleh Indonesia.

Indonesia memiliki kepulauan terluas di dunia, tersebar dari sabang sampai merauke, dari pulau miangas sampai pulau rote. Jarak yang terbentang dari barat ke timur kurang lebih 5236 km, jarak ke utara sampai keselatan kurang lebih 2000 km, dari luas yang terbentang itu Indonesia memiliki 17000 pulau yang tersebar dari barat ke timur serta dari utara ke selatan. Setiap kepulauan memilki kekayaan sumber daya alam yang beraneka ragam seperti emas, minyak, batubara, timah, nikel, karet, kelapa sawit, dan masih banyak lagi.


Selain kekayaan sumber daya alam, Indonesia memiliki keeksotisan alam yang luar biasa seperti gunung, pantai, lautan, hutan, gua, persawahan, dan berbukitan.





                                           
Namun keeksotisan alam Indonesia masih sangat kurang diketahui oleh orang Indonesia. Orang Indonesia hanya mengenal lewat buku pelajaran, media massa, ataupun cerita dari orang luar negeri tentang indahnya negeri Indonesia.    

Tepat tanggal 12.12.2012 orang Indonesia bisa mengenal cantik dan luar biasanya alam yang di kandung oleh ibu pertiwi melalui Petualangan yang di lakukan oleh ke enam anak muda dari Jakarta yang terdiri dari Arial, Genta, Zafran, Ian, Dinda dan Riani dalam film 5cm, film 5cm merupakan visualisasi dari novel 5 cm.

Di dalam kisah 5 cm, ke enam pemuda tersebut memilih Mahameru sebagai objek eksplorasi keeksotisan alam ibu pertiwi,yaitu mahameru. Mahameru merupakan pucak tertinggi di Jawa. 

Mahameru menyimpan beraneka ragam keindahan yang membuat mata tak terpejam, dan mulut selalu mengucapkan syukur kepada sang pencipta bahwa bumi Indonesia sangatlah Indah.

Salah satu tempat terindah di dalam film tersebut ialah ranu kumbolo, ranu yang artinya danau. Di Ranu Kumbolo kita bisa melihat danau yang luas yang dihiasi oleh pohon-pohon yang rindang serta kabut putih yang turun membuat mata segar.
                                 
.
Keindahan Mahameru tidaklah mudah untuk ditelusuri. Dalam kisah 5cm, Arial, Genta, Ian, Zafran, Dinda, dan Riani mengalami berbagai macam rintangan untuk menuju puncak Mahameru, terjalnya medan pendakian hampir membuat nyawa Ian melayang, dan dinginnya udara yang menyengat hampir membuat Arial meyerah.

Filosofi tentang mimpi yang selalu menggantung 5cm di depan kening membuat keenam pemuda tersebut tak mengenal kata menyerah dan mengeluh seberat apa pun rintangan mahameru.

Sesampainya di atas puncak, keenam pemuda tersebut melakukan upacara bendara, mereka mengibarkan sang dwi warna di atas puncak tertinggi pulau Jawa. Mereka menghayati apa yang mereka sudah berikan kepada Indonesia, padahal Indonesia selalu memberikan kebaikan untuk mereka. Mereka lahir, minum, makan dan bernafas di Indonesia.


Banyak pelajaran dari novel dan film 5cm yang sangat penting dan dalam untuk kaum muda Indonesia. Kenali dan cintailah Indonesia. Walau pemerintahan Indonesia busuk, walau banyak orang asing yang mengesploitasi Indonesia, bukan untuk kita hujat, bukan untuk kita cela, atau bahkan kita kabur dari Indonesia. Kita hanya perlu kenali dan cintai Indonesia. Jika bukan kaum muda Indonesia, siapa lagi yang memperbaiki keadaan Indonesia di masa yang akan datang. 

Sunday, 17 November 2013

Secrets of the Most Productive Travelers

I took this article from website, made by Geri BAIN


Your list of countless invaluable tips that promise to speed your travel and increase your comfort on the road.
When Rick Burton goes on the road, his rituals create a kind of cocoon that moves with him. The David B. Falk Professor of Sport Management at Syracuse University, Burton has flown an average of 100,000 miles a year for the past 30 years. He has taken to traveling with zest, boasting about his "squishy pillow that conforms to my neck" and his change of comfortable clothes that he wears on long flights.

"I bring a baseball cap to pull down over my eyes, and slippers, since feet expand at altitude and I don’t want to walk into a bathroom in socks. It may not be quite like at home but I want to be comfortable," he says.

Jennifer Wilson-Buttigieg of Valerie Wilson Travel, who was on the road 155 days in 2011, travels with a cape that doubles as a blanket because "it has my scent… and it's clean," and she wipes down her seat and the remote with Purell before each flight.

Burton and Wilson-Buttigieg are fairly typical in their quirkiness. The most predictable thing about travel is its unpredictability. To be truly productive when the rhythm of life is literally in the air, most road warriors create routines, rules and rituals that provide a grounding sense of control and comfort. They plan for a myriad of contingencies, accept what is beyond their power with Zen-like equanimity, and get on with their work.

The following is a list of how they do it
—stay in the air while staying productive—and comfortable:
Stay Connected.

Carry extra batteries, battery powered chargers and adapters, advises political consultant Carl Silverberg, who logged 131,000 miles in 2011 alone. "They're inexpensive and a lifesaver when you can't find an outlet."

Bring a high-quality hands-free set for your phone so that you can answer calls in noisy places and be able to hear and be heard, advises John Barrows, vice president of corporate communications for Avis Budget Group, who took 40-plus flights "in everything from a 747 to teensy prop planes" last year.
Advises Bill Stewart, founding partner at strategic advisory firm Avondale, who traveled about 250,000 miles last year, mostly from coast to coast, "Get a long-battery-life laptop and get the extended battery, because I never know when I’ll be away from a power outlet for an extended time. Six to seven hours of battery life is my new minimum living standard."
Back yourself up.

When you can’t connect, you can still use your email program to clear out your in-box, Barrows notes.

Since you can’t always get to everything you need from your laptop or smart phone, "print out back ups and/or put them on a flash drive," suggests Silverberg.

Carry a print out of flights before and after each departure, including those on other carriers, in case a meeting ends early or goes late, or a carrier cancels a flight "so you’re not starting from zero to reschedule if you can’t get it on an app," suggests Wilson-Buttigieg.
At the ready.

Minimize the stress of last minute packing by keeping toiletries, technology kits and other basics ready to grab and go.
Stewart advises investing in a tablet, instead of clogging your carry-on bag with books. "I read one to two books per week, and now I no longer have to worry about carrying around the latest 1,000-page Dances with Dragons, or think about the weight differential between hardcover and paperback. Also, I pay Amazon prices for books now, not airport prices, so the tablet has paid for itself already. The added benefit of the tablet is that I can read while on the elliptical or treadmill at the hotel gym; I just turn up the font size and no longer need to sweat all over my reading glasses and try to juggle a book while I’m exercising."

Barrows keeps a spare set of all his laptop cords, flash drives and connectors in a heavy duty Ziploc bag so he never leaves behind something important.

Wilson-Buttigieg maintains an "emergency red vinyl folder, in both digital and paper," by her bedside with contacts, a copy of her passport, insurances, and everything she might need if she couldn’t get access digitally. 
Appoint a troubleshooter.

Designate someone to coordinate what you can’t manage while traveling and have set times to check in and deal with questions, advises Mauricio Millán Costabile, vice president of Coraza CorporaciĂłn Azteca, who flies domestically about three times a month, and to Asia or Russia once a quarter.

A trusted travel consultant is invaluable, asserts Gary E. Hayes, PhD, managing partner, Hayes Brunswick and Partners and author of 
Leading in Turbulent Times. Hayes, who averaged more than two trips a month last year, says his agent usually can arrange early hotel check in at no charge, and knowing she is on top of potential travel issues like storms and wildcat strikes allows him to stay focused on his mission. 
Tune in to your time zone.

"Change your watch at take off," advises Wilson-Buttigieg "It gets you into the right mind set."

Stu Strelzer, who is on the road more than 180 nights a year handling broadcast operations for shows on ABC Television Network, says if he’s heading west, he works and reads until about 11 p.m. local time so he can "synch up and then get a good night’s sleep."

Heading east, Strelzer prefers to get on the plane tired and sleep. "I bring noise canceling headphones. That really helps."

Ann MacDougall, COO, Acumen Fund, who frequently flies to Pakistan, India and Africa, agrees. "Especially when heading east overnight, take an Ambien (if needed) as soon as you take off to try to replicate a night’s sleep."
Another approach: Avondale's Stewart says, "I always stay on east coast time, even though I live on the west coast.  All my clients are Eastern or Midwestern, so it’s easier to stay on one time zone clock than constantly try to switch back and forth. As a result, I typically go to bed at 8 p.m. pacific time on a Friday night and get up at 5 a.m. pacific time on a Saturday morning, so I’m not exactly the life of the party! Of course, I can fix this any time I want by moving east, but my family and I really like living in California, so it’s a worthwhile tradeoff. I guess the general tip would be pick a time zone and stick to it.
Plan time to recharge.

Pushing relentlessly can be counter-productive.

"If I land in the morning and go for a run, preferably outside, that can change the first two days of my trip," says Hayes.
Stewart agrees, "An hour’s exercise is always better than an hour’s sleep! As I’ve gotten myself into shape over the last few years (I now do  about 30 miles per week of trail running and gym ellipticals), I’ve found that I need less sleep. I’d rather get five to six hours of sleep and an hour of exercise than seven hours sleep. It’s always hard to get up at 4:30 a.m. to hit the hotel gym, or to work out at 9 p.m. after a dinner with the client, but the payoff is worth the price. I’m down nearly 40 lbs from where I was in 2006 and I'm have so much more energy.

MacDougall advises doing at least one thing that is fun or enriching on each trip. "On day three of five days of non-stop meetings in Madrid, I 'stole' 45 minutes to go to the Prado
museum—that was really fun and re-energized me."
Stewart adds that, if you can, take an extra day for yourself. "I completely "veg out." I explicitly force myself to relax and not think about work."

Burton, whose first novel, a World War II thriller, was recently published, says it’s important to him to have time to be creative while traveling. Traveling as much as he does, he says he views his trips “as endurance races, not sprints. The modern business traveler needs to ask, am I operating my body as a sustainable entity just as I would any business asset.”


Friday, 15 November 2013

negeri singa tanpa singa

Matahari belum menunjukan cahayanya, saya sudah mulai berangkat menuju bandara Internasional Soekarno-Hatta. hari ini saya ingin berkunjung ke negeri singa. Negeri yang memiliki perbedaan waktu lebih cepat satu jam dibandingkan Waktu Indonesia bagian Barat. Saya berangkat dari Jakarta pukul 6.30 a.m dan tiba di Singapura pukul 10.30 a.m. 

Setibanya saya di negeri yang sekaligus ibukota negara ini saya di sambut oleh hujan besar. Alhasil saya hanya berdiam diri di dalam apartemen di kawasan tanah merah road. Setelah beberapa jam hujan mulai reda, saya pun pergi menuju pusat kota dengan munggunakan MRT (Mass Rapid Transit).



Internary hari pertama saya ialah patung merlion. Jarak antara tanah merah Road ke merlion cukup jauh, saya harus transit terlebih dahulu di Paya Lebar dan selanjutnya saya mengambil ke arah marina bay.   Patung Merlion merupakan tempat dimana wisatawan asing wajib berkunjung jika sedang berada di Singapura. Patung besar kepala singa dan berbadan ikan ini mampu mengeluarkan air mancur yang cukup deras, namun nasib saya kurang beruntung, ketika saya berkunjung ke singa merlion ia sedang di dalam renovasi. Sehingga mulut singa yang mengeluarkan air mancur itu tidak bisa saya lihat.




Untung masih ada singa kecil yang tidak jauh dari singa merlion besar itu. 


Catatan bagi anda yang ingin pergi ke suatu daerah, coba cari tau tempat wisata yang ingin anda kunjungi, apakah sedang dalam renovasi atau tidak. Agar pengalaman yang saya alami tidak terulang oleh anda. selamat berlibur

Kriminal di Phuket dan Pattaya

Ketika ingin liburan atau berkunjung ke Negara orang kita perlu mengetahui kondisi Negara tersebut untuk terhindar dari hal yang tidak diinginkan berikut ini adalah artikel untuk mewaspadai diri kita saat di Phuket dan pattaya. 

catatan artikel ini bukan untuk menakuti agar tidak berkunjung kesana, saya tahun 2012 sudah pergi ke Phuket dan Pattaya saya tidak mengalami hal demikian.  

CANBERRA, KOMPAS.com - Pemerintah Australia dan pemerintah Inggris telah mengeluarkan peringatan kepada para turis yang mengunjungi kawasan wisata Thailand, Phuket untuk berhati-hati dengan banyaknya penipuan.
Description: http://assets.kompas.com/data/2013/news3/images/artikel/quote_1.gif
"Hati-hati bila dicuri atau rusak. Turis asing biasanya ditahan polisi sampai proses ganti rugi diselesaikan,- kadang sampai ribuan dollar- antar pihak yang bersengketa."
-- Duta Besar Australia untuk Thailand, James Wise
Description: http://assets.kompas.com/data/2013/news3/images/artikel/quote_1.gif
Duta Besar Australia untuk Thailand, James Wise, dan Duta Besar Inggris untuk Thailand Mark Kent bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata Thailand sudah mengeluarkan kampanye mengenai para kelompok kriminal setempat yang kadang bekerjasama dengan polisi, guna memeras turis asing di Phuket dan Pattaya.
Menurut laporan kantor berita Australia AAP, hari Senin (24/12/2012), setiap bulannya diperkirakan 25 ribu warga Australia mengunjungi Phuket dengan musim liburan Natal dan Tahun baru merupakan masa puncak. Bentuk penipuan utama melibatkan penyewaan taksi dan jet ski di Phuket dan Pattaya.
Kepada AAP, James Wise mengatakan para turis harus berhati-hati ketika menyewa jet ski atau sepeda motor. "Hati-hati bila dicuri atau rusak. Turis asing biasanya ditahan polisi sampai proses ganti rugi diselesaikan,- kadang sampai ribuan dollar- antar pihak yang bersengketa." kata Wise.
Juga diperingatkan untuk berhati-hati di "pasar yang sibuk, tempat wisata, terminal bus dan stasiun kereta dan festival. "Lebih baik menghindari kampung yang terpencil, jalan kecil, lorong yang gelap, khususnya di malam hari." tambah Wise lagi.
Konsul Australia di Phuket Larry Cunnigham mengatakan, meningkatnya angka kriminal di sana sudah membuat banyak warga asing yang sebelumnya menetap di sana untuk meninggalkan pulau tersebut. Cunningham mengatakan, para pelancong belia sering menjadi target kelompok kriminal dan kadang diperas oleh polisi.
Menurut laporan koresponden Kompas di Australia L. Sastra Wijaya, dalam sebuah insiden, seorang turis muda Australia terlibat kecelakaan kecil ketika mengendarai motor sewaan. Oleh polisi, turis tadi diberitahu korbannya cedera serius dan harus membayar ganti rugi puluhan juta rupiah. Setelah penyelidikan oleh konsul, korban warga Thailand ini hanya mengalami luka kecil.
Para diplomat juga memperingatkan agar para turis tidak menyerahkan paspor mereka ketika hendak menyewa mobil atau motor. "Bila ada masalah, sering kali sulit atau hampir tidak mungkin paspornya dikembalikan sampai masalah ganti rugi diselesaikan." kata Wise.
Lutzi Matzig, direktur perusahaan tur Asian Trials mengatakan, masalah lain di Phuket adalah harga sewa taksi yang "gila-gilaan". "Mafia taksi setempat menetapkan harga sewa taksi 500 bath (sekitar 160 ribu rupiah), padahal harga sebenarnya tidak lebih dari 20 atau 50 bath (6 sampai 16 ribu rupiah). Mafia taksi ini merajalela di Phuket." kata Matzig.
Para turis asing juga diperingatkan untuk tidak menghadiri pesta bulan penuh karena polisi dan kriminal mencari korban saat itu. "Ada warga Australia yang ditahan, dipukuli, diperkosa, mengalami cedera karena pesta bulan penuh ini, kadang karena mereka terlalu mabuk, mengkonsumsi narkoba atau minuman mereka dicampur obat penenang." kata Wise.

Di tahun 2011, Departemen Luar Negeri Australia mencatat adanya 69 warga Australia yang meninggal di Thailand, dan 50 orang di antaranya tewas di Phuket.



Thursday, 14 November 2013

Masjid Pakistan Hat Yai Thailand


Jumat,17 Juli 2012 yang lalu saya tiba di Hat Yai Thailand. Setibanya itu, saya mencari bis untuk ke Bangkok, tujuan pertama saya ke Thailand ialah Bangkok. Mencari bis menuju ke Bangkok pada pagi itu tidaklah mudah. Semua menetapkan harga yang tinggi. Membuat saya berpikir hingga berkali-kali. Untung dari tempat pemberhentian bis saya itu tidak jauh dari stasiun kereta api, setelah melihat harga yang di tawarkan oleh kasir stasiun kereta api, membuat saya memilih menggunakan kereta api untuk ke Bangkok.

Setelah mendapatkan tiket kereta api,saya berjalan mencari masjid untuk melakukan solat Jumat. Kebetulan saya tiba di Hat Yai hari Jumat. Lokasi stasiun kereta api Hat Yai tidak jauh dari masjid. Berbekal peta yang diberikan oleh petugas informasi di stasiun. Saya pun melangkah menuju masjid tersebut. Dalam perjalanan saya dapat memperhatikan sekeliling kota Hat Yai yang tidak begitu ramai dan tidak begitu sepi. Semua manusia memiliki aktivitasnya masing-masing. Kebetulan kawasan masjid tersebut dekat dengan pasar tradisional.

Setibanya di masjid, saya beristirahat sejenak melepas segala lelah selama perjalanan yang cukup memakan tenaga dan waktu. Masjid tersebut bernama Masjid Pakistan Hat Yai Thailand, masjid yang mayoritas jamaahnya berasal dari bangsa melayu. Perjalanan jauh menuju Thailand yang ditempuh menggunakan bis dari Bugis Street Singapura ke Johor Baru,Malaysia dan dilanjutkan ke Pudu Raya,Kualalumpur,Malaysia hingga tiba di Hatyai Thailand membuat diri saya sangat lelah. 

Di salah satu sudut masjid itu saya beristirahat sejenak. Saya terpikir saya belum mandi selama berjam-jam, hingga saya keluarkan alat mandi saya, kemudian bergegas ke kamar kecil untuk mengembalikan kesegaran tubuh saya. Dengan mandi saya dapat merasakan segarnya dunia, bayangkan selama dua hari saya belum mandi. Badan sudah segar saya pun bergegas menuju ke dalam masjid, saat saya sedang santai menunggu solat Jumat. Seseorang menghampiri saya, saya pun menyambut hangat kedatangnya. Ia melihat bawaan saya cukup banyak. Ia bertanya dengan menggunakan bahasa Thailand, saya jawab juga dengan bahasa thailand yang artinya “maaf saya tidak bisa bahasa Thailand, saya Indonesia” Ia pun tidak merasa heran dan ia langsung menjawab dengan menggunakan bahasa Melayu “Thailand dan Indonesia wajahnya mirip”. Saya pun tertawa karena setiap perjalanan menuju thailand banyak yang bicara dengan saya dengan bahasa Thailand namun saya hanya mampu memberikan senyuman.

Nama orang itu ialah bapak H. Romli. Ia merupakan keturunan bangsa minangkabau. Namun ia tidak pernah pergi ke daerah nenek moyangnya itu berasal. Bapak Romli sangatlah ramah. Ia bercerita banyak tentang Indonesia dan Thailand. Saya cukup senang ternyata ada orang yang mampu berbahasa melayu di tengah banyaknya yang berbahasa Thailand yang membuat saya sangat kesulitan. Apalagi di Hat Yai itu mayoritas penduduknya tidak bisa berbahasa Inggris. Alhasil pertemuan saya dengan bapak H. Romli itu diisi oleh pertanyaan mengenai bagaimana cara menuju Bangkok. Ia memberi petunjuk untuk naik kereta api, karena lebih murah dan lumayan cepat di bandingkan bis. Namun jika saya ingin lebih nyaman dan lebih cepat, saya perlu mengeluarkan uang baht lebih untuk membayar mobil van. jelas pilihan menaiki naik van saya tidak ambil.

Sedang asyik mengobrol dengan bapak H. Romli seseorang berbaju putih, menggunakan penutup kepala putih berjalan pincang menghampiri kami. ia tidak bisa berbahasa Thailand maupun Melayu, ia hanya bisa berbahasa Inggris. Orang tersebut bernama Hamid, ia berasal dari India. Ia sangat tertarik mendengar obrolan kami. Namun kendala bahasa membuat ia tidak mengerti. Setelah cukup panjang lebar bapak H. Romli pun berjalan pergi, saya pun lanjut ngobrol dengan Hamid, kami banyak membicarakan mengenai India,Indonesia,Thailand.

“100 rupee = 100 baht, Thailand negara yang terjangkau bagi saya”, kata hamid
“kalau negara saya 30.000 rupiah = 100 baht” balas saya
“kenapa Indonesia uangnya terlalu murah”
“saya hanya menjawab dengan senyum”
Dengan menunjukan uang 5000 rupiah ke saya Hamid bertanya,” jadi berapa baht jika saya mau tukar ?”
“Sekitar 16 baht”
“kecil sekali, padahal nolnya banyak” Kami pun tertawa

Hamid merupakan pengembara dari India, misinya ialah berdakwah. Sambil mengobrol, ia menunjukan paspor dan mata uang negara-negara yang pernah ia singgahi. Hampir seluruh Asia ia pernah kunjungi, kecuali Korea dan Jepang. Melihat sosoknya saya belum ada apa-apanya, saya baru tiga negara. Dan misi saya tidak sama dengan Hamid yang berkelana menyebar dakwaah, saya hanya mencari pengalaman dan menulis pengalaman itu kedalam komputer dan saya sebar tulisan-tulisan itu ke dunia maya ataupun dunia nyata.

“Hamid bertanya, siapa nama kamu ?”
“Nama saya Pria, jawab saya”
“Priya?”
“Iyaa, pria”
“Pria di India artinya cantik / Indah. Tidak ada laki-laki di India bernama pria”
Saya pun tertawa mendengarnya
“Di negara saya Indonesia, Pria itu artinya laki-laki”
“Sama bahasa beda arti,yah”
Kami pun tertawa.

Cukup lama kami mengobrol, Hamid pun minta izin karena waktu solat Jumat mau masuk namun dirinya belum membersihkan tubuhnya dengan mandi.

Masjid Paskitan, Hat Yai, memang tempat yang cukup enak untuk musafir singgah, disana terdapat air minum yang disediakan oleh petugas masjid. Tempat air minum itu berupa galon raksasa, kita bisa meminum air dingin atau hangat. Kebetulan saya membawa botol minum saya pun mengisinya hingga penuh untuk bekal minum di jalan. Di masjid itu pun terdapat kamar mandi yang cukup banyak dan dapur yang cukup luas.

Setelah saya di tinggal oleh Hamid dan bapak H. Romli seseorang berbaju hitam menghampiri saya. Ia mengaku berasaal dari solo yang sekarang bertempat tinggal di daerah Kalimantan Barat. Saya cukup senang bertemu dengan orang Indonesia karena walau saya di negara asing, yang serba asing membuat saya dekat dengan negara saya,Indonesia.

Ia bernama bapak Tan Mala. Ia berada di Thailand itu karena misi dakwaah. Sudah cukup banyak negara ASEAN yang ia singgahi. Baru saja ia pulang dari Kamboja kemudian ke Thailand lalu balik lagi ke Indonesia.

Ia menawari saya untuk bergabung bersama kelompoknya untuk menyebar dakwah di ASEAN, bahkan jika nanti saya bagus dalam berdakwah bisa keliling Eropa katanya. Dari tawaran tersebut jelas sangat menggoda. Siapa yang tidak mau berkeliling Eropa. Namun saya paham betul siapa saya. Saya belum mampu untuk menyebar dakwah. Saya menolak secara halus dari tawarannya itu.

Dengan panjang lebar ia menceritakan kisah perjalanan dakwahnya itu. Lumayan lama bapak Tan Mala bercerita hingga waktu solat Jumat pun tiba. Setelah selesai solat Jumat saya pun bergegas menuju ke stasiun kereta api. Namun sebelum pergi ke stasiun saya mengisi air minum dahulu ke dalam botol. ketika sedang mengisi minum Saya di sapa oleh beberapa remaja yang berasal dari Indonesia. Mereka merupakan mahasiswa UGM. Perkenalan yang singkat membuat saya lupa siapa nama mereka.
Mereka tidak langsung pergi melanjutkan perjalanan melainkan singgah dahulu di masjid untuk beristirahat kemudian lanjut pergi. Tujuan pertama mereka sama seperti saya yaitu Bangkok.

Selesai mengisi air minum saya pun pamit untuk pergi menuju ke stasiun. Sebelum berangkat ke Bangkok saya beli makan siang dahulu. dan mampir ke mini market untuk membeli persediaan makanan.

Perjalanan dari Hat Yai ke Bangkok kurang lebih menghabiskan waktu 17 jam. Berangkat dari Hat Yai  03.30 p.m sampai di Bangkok pukul 10 a.m

Wednesday, 13 November 2013

Pria di toko wanita in Singapore

Malam sudah larut, namun mata tak ingin terpejam. Banyak hayalan yang ada di dalam otak yang sudah membayangkan akan indahnya negeri orang. Entah ini mimpi atau bukan yang jelas nanti jam tujuh pagi saya akan berangkat ke singapura dengan pesawat Garuda Indonesia GA 824, negeri sekaligus ibu kota negara itu menyimpan berbagai teka-teki, walau banyak warga negara Indonesia yang sudah melancong kesana bahkan bertempat tinggal disana saya masih tertarik dengan negeri dot itu. 

Saya akan melihat dan akan banyak bertanya ke orang mengenai singapura. Saya harus lebih jeli terhadap situasi yang akan terjadi karena saya pergi sendirian dan membawa uang yang sangat terbatas. Walau Singapura terkenal dengan surga belanja saya tidak tertarik dengan hal itu. Namun saya tidak bisa munafik ketika saya bercerita akan pergi ke negeri itu seorang teman meminta agar dibelikan sebuah tas dan sepatu, saya berterus terang kepada taman saya bahwa saya hanya membawa uang sangat terbatas kemungkinan saya tidak bisa membelikannya apa yang ia pesan. Tak disangka. mendengar keluhan saya, teman saya malah memberikan sejumlah uang untuk membelikannya sapatu dan tas. Alhasil saya mau tidak mau harus membelikannya.

Pengembalian Pajak Elektronik untuk Wisatawan

Ternyata di singapur, wisatawan yang datang ke negeri dot ini bisa mengajukan pengembalian uang sebesar tujuh persen dari Goods and Services Tax (GST) atau Pajak Barang dan Jasa di gerai-gerai ritel yang berpartisipasi, ketika kita meninggalkan Singapura dan membawa belanjaan pulang. Cukup berbelanja sebesar SGD100 atau lebih 
para wisatawan dapat mengajukan pengembalian GST mereka di ruang keberangkatan Changi International Airport dan Seletar Airport. 

Dan mulai tanggal 21 Januari 2013, para wisatawan yang berangkat dari Singapura dengan kapal pesiar internasional (tidak termasuk kapal pesiar yang tidak berangkat, kapal pesiar pulang-pergi, dan feri regional) melalui Marina Bay Cruise Centre Singapore dan Terminal Penumpang Internasional di HarbourFront Centre juga bisa melakukan pengembalian pajak. Tujuan akhir dari perjalanan kapal tersebut tidak boleh ke Singapura, dan di mana perjalanan tersebut melibatkan kapal yang bersangkutan kembali ke Singapura dalam satu atau beberapa kali kesempatan. Para wisatawan hanya dapat mengajukan pengembalian GST pada keberangkatan terakhir kapal dari Singapura dalam satu kali perjalanan.
Untuk informasi mengenai ketentuan dan kriteria skema yang berlaku bagi para wisatawan, silakan mengunjungi www.iras.gov.sg.

Jadi besok saya masuk ke toko wanita melihat sepatu yang cantik dan tas yang elegant dan semoga saya tidak di minta untuk mencoba sepatu wanita yang akan saya beli itu.


Lucu sekali jika saya di minta. "mr, could you like check your shoes !"

Tuesday, 12 November 2013

Liburan ala gue

Memasuki awal Juli menandakan bahwa masa liburan sekolah telah tiba. Banyak tempat yang dapat kita kunjungi baik di dalam ataupun di luar negeri, semua tergantung kebutuhan, keinginan, dan kesiapan.

Setiap orang tua ingin sekali memanjakan setiap anaknya namun masalah dana sering kali menjadi hambatan untuk menikmati liburan bersama keluarga, selain dana waktu yang di miliki antara orang tua dengan anak pun sering menjadi alasan bahwa liburan itu tidak dapat terlaksana. Jika mengikuti dana dan waktu kita tidak akan bisa menikmati berlibur. Inti dari liburan itu bukan hanya kebersamaan melainkan kebahagiaan setelah melakukannya, sehingga apabila kita sebagai anak memiliki dana yang cukup dan waktu yang cukup tidak salah untuk mengambil waktu untuk berlibur, baik bersama teman-teman atau pun seorang diri. Orang tua hanya memberi izin,saran, dan petunjuk agar sang anak dapat menikmati liburannya secara baik dan benar. Arti baik dan benar disini adalah sang anak harus tau dengan siapa ia pergi, ketempat mana yang akan di tuju, berapa biaya yang harus dikeluarkan. Jika sang anak sudah paham menurut kedewasannya  orang tua harus mengizinkan sang anak untuk berlibur.

Berlibur banyak caranya apakah kita ingin  secara mewah, jika kita banyak uang atau kita hidup bersama masyarakat sekitar ala back packer. itu semua tergantung kepada pilihan anda.

Saya memilih untuk berlibur ala backpacker , karena ingin merasakan bagaimana rasanya hidup seperti masyarakat setempat. Awal juli 2012 saya merasakan liburan di sebuah desa bernama desa Trajaya, kota Majalengka, Jawa Barat. Disana saya tinggal di sekitar alun-alun desa Trajaya. saya berlibur di desa itu tidaklah sendirian melainkan  bersama teman-teman organisasi saya. Kami tinggal di sebuah tempat dimana tempat itu merupakan puskesmas darurat masyarakat setempat. kami mendapatkan tempat itu dari kepala desanya langsung, betapa bahagianya kami disambut baik oleh mereka. 

Di desa itu kami tidak hanya berlibur melainkan melakukan penelitian. kebetulan di desa itu memang salah satu desa yang menghasilkan kerajinan tangan bernama boboko. setiap rumah kami telusuri untuk melihat proses pembuatan boboko tersebut. Kami wawancarai mengenai segala hal baik boboko maupun kehidupan sebagai pengrajin boboko. Banyak ilmu yang kami dapat dari kegiatan penelitian itu. Kami jadi tau bahwa disana penduduk setempat ada yang menjadi TKI di Korea, Jepang,dan Arab Saudi. walaupun TKI tersebut sudah bertahun-tahun tinggal di negara orang lain mereka tetap membuat boboko setelah kembali ke desa itu.

Kami melakukan penelitian selama lima hari, setelah kami selesai melakukan penelitian maka kami mengakhirinya dengan salam perpisahan kepada kelurga kepala desa dan masyarakat setempat. Betapa harunya acara perpisahan saat itu. keramahan masyarakat desa trajaya tidak akan kami lupakan.